Register
Home Home Artikel Langkah Praktis Cegah Perubahan Iklim, Sebelum Kesepakatan Iklim Tercapai di Kopenhagen
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
Langkah Praktis Cegah Perubahan Iklim, Sebelum Kesepakatan Iklim Tercapai di Kopenhagen
Written by Ani Purwati   
"Apa dampak nyata bagi bumi dari perundingan iklim yang sedang berlangsung ini?” tanya Vivi, salah satu siswi SMA 48 Jakarta Timur saat diskusi dalam acara roadshow South to South Film Festifal di SMA berpredikat sehat di Jakarta, Kamis (10/12).
 
***
Saat ini sedang berlangsung Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark. Konferensi Tingkat Tinggi PBB yang ke-15 (COP-15) ini membahas perubahan iklim dan bagaimana menanganinya. Di antara pihak konferensi, yang terdiri dari Annex I yang dikenal sebagai negara maju dan Non Annex I yang dikenal sebagai negara berkembang, masih tarik ulur dengan apa yang bisa mereka lakukan.
 
Dalam hal ini seringkali negara maju yang berkewajiban menurunkan emisi 25% sesuai Protokol Kyoto tidak menunjukkan itikad baik melakukan kewajibannya, baik menurunkan emisi atau memberi bantuan dana dan teknologi pada negara berkembang untuk berperan dalam mitigasi perubahan iklim.
 
Bahkan negara maju yang secara historis telah menghasilkan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global dan perubahan iklim paling tinggi, nampak ingin mengalihkan tanggungjawab pengurangan emisinya pada negara berkembang yang baru mengembangkan industri dan perekonomianya, namun bersedia secara sukarela menurunkan emisinya.
 
Apa yang terjadi dalam perundingan tingkat dunia ini seringkali terhambat oleh kepentingan politik masing-masing negara. Inilah yang mengakibatkana kesepakatan yang diharapkan untuk melakukan aksi nyata sesuai tanggungjawab dan kemampuan masing-masing negara secara global belum juga tercapai.
 
“Lalu apa dampak nyata bagi bumi dari perundingan iklim yang sedang berlangsung ini?” tanya Vivi, salah satu siswi SMA 48 Jakarta Timur saat diskusi dalam acara roadshow South to South Film Festifal di SMA berpredikat sehat di Jakarta, Kamis (10/12)
 
“Yang pasti dampaknya adalah menghasilkan emisi lebih besar karena adanya mobilisasi para delegasi ke Kopenhagen untuk menghadiri konferensi,” jelas Rully Sumanda dari Institut Hijau.
 
Sejak terbentuknya COP pertama sampai 15 sekarang, kesepakatan untuk melakukan upaya pengurangan emisi sesuai ketentuan Protokol Kyoto juga belum tercapai. Namun ini tetap dihargai sebagai proses menuju kesepakatan itu, sehingga tidak perlu pesimis dengan berlangsungnya Konferensi Perubahan Iklim ini.
 
“Kita bisa melakukan upaya sendiri sejak sekarang untuk mengurangi pemanasan global, mulai dari yang paling sederhana” kata Rully.
 

Langkah Praktis

Di antaranya dengan mengurangi penggunaan plastik. Setiap belanja kita dapat membawa tas untuk menyimpan barang belanja sendiri. Cara ini bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari sampah yang jumlahnya sangat tinggi. Di Jakarta saja, setiap tahun sampah mencapai 185 kali volume Candi Borobudur, dan sampah yang berbentuk plastik mencapai 153 kali volume Candi Borobudur. Biasanya sampah di Jakarta seukuran 192 truk fuso masuk ke sungai dan memenuhi Muara Angke dan Teluk Jakarta setiap harinya.
 
Cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah efisiensi penggunaan listrik dengan mematikan listrik yang tidak diperlukan lagi. Dalam transportasi juga dapat berhemat dengan memanfaatkan alat transportasi umum yang bisa menampung banyak penumpang.
 
Langkah-langkah sederhana ini diharapkan bisa menjadi aksi nyata dari kita untuk berperan menurunkan emisi gas rumah kaca secara pribadi ataupun kelompok. Emisi gas rumah kaca berasal dari karbondioksida (CO2), methane (CH4), dinitroksida (N2O) dan beberapa gas lain dalam jumlah lebih kecil. Gas-gas ini berasal dari transportasi, penggunaan bahan bakar fosil, peternakan, pertanian, kerusakan hutan dan gambut dan sebagainya.
 
Methana mempunyai efek panas lebih besar dari CO2, yaitu 72 kali CO2. Gas Methana sebagian besar berasal dari peternakan. Industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%).
 
“Dengan meningkatnya kebutuhan daging sebagai konsumsi manusia, jumlah hewan ternak bisa lebih besar dari populasi manusia, maka besar pula methane yang dihasilkan,” kata Ismi, siswi dari SMA 48.  
 
Pendapat ini diperkuat oleh Rully Sumanda. Menurutnya, di beberapa negara (seperti Venezuela, Uruguay, Paraguai, dan Honduras), jumlah sapi 5 kali dari jumlah manusia. Penduduk Venezuela berjumlah 17 juta jiwa, namun sapi mencapai 135 juta. Sebagaian besar sapi ini untuk memasok kebutuhan konsumsi daging Amerika Latin saja. Setiap hari konsumsi daging bisa mencapai 1,5 kg per orang. Untuk memproduksi 1 kg daging sapi atau 4 buah burger, menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan potensi pemanasan yang setara dengan 36,4 kg CO2.
 
Apa yang bisa kita lakukan? Semua pilihan kita sebagai bagian dari planet bumi yang makin panas ini. Ingin semakin meningkatkan panas bumi dengan menghasilkan emisi lebih besar atau menurunkan emisi? Semua dapat kita lakukan sejak sekarang secara sederhana dan ramah lingkungan, tidak harus menunggu kesepakatan tingkat global ynag tidak juga tercapai.
 
Members : 3299
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 166479
We have 12 guests online
Copyright © 2012. South to South Festival. Re-Designed by FunWebbing