| Gus Solah & Korban Lapindo Membuka StoS Festival 2010 |
|
Siaran Pers StoS Festival 2010, 22 Januari 2009 Bulan Mei nanti, genap empat tahun korban Lapindo menderita tak berkesudahan digenangi lumpur. Sekitar 70 ribu orang mengungsi, 12 ribu rumah tenggelam, hampir 800 ha sawah rusak dan ribuan orang kehilangan matapencaharian. Sementara pemerintah tak menyediakan upaya khusus pendidikan anak-anak korban, biaya sekolah tetap tinggi, sedang beban ekonomi keluarga meningkat. Tak hanya bertambah miskin. Ratusan anak-anak disana putus sekolah. Potret kecil tentang anak-anak korban lumpur Lapindo yang luput dari perhatian bisa disaksikan pada film berdurasi 23 menit, karya Danial Rifki. "Masih banyak teman-teman kami yang bernasib sama seperti yang ada di Film Anak-Anak Lumpur. Bahkan saat ini banyak mereka tak lagi bisa bersekolah karena bapak ibunya tak memiliki uang," cerita Wawan, 12 tahun, yang datang bersama temannya, Yogi dan Bapak Irsyad dari Besuki – salah satu desa korban Lapindo. StoS Film Festival 2010 memang bermaksud menghubungkan publik perkotaan dengan warga di kawasan-kawasan eksploitasi sumber daya alam – melalui film dan media visual lainnya. Isu lingkungan menjadi tema utama film-film yang diputar pada hari pembukaan. Selain Anak-anak Lumpur, hari ini akan diputar juga The Age of Stupid. The Age of Stupid, film yang dibuat menyambut Konvensi Perubahan Iklim COP 15 Copenhagen – yang suram hasilnya. Film berdurasi 89 menit ini mengajak kita maju ke tahun 2055, ketika spesies manusia hampir punah oleh ulahnya sendiri. Seorang pengarsip tanpa nama, menunjukan fakta-fakta mengenai kehancuran bumi yang disebabkan ulah manusia sendiri. Ia bilang, saat itu - sebenarnya manusia masih punya waktu. Hasil COP 15 bagai potongan puzle film ini, karena di Copenhagen para pemimpin dunia telah melewatkan kesempatan menyelamatkan penduduk bumi. Tak hanya film, ASAP Orbit To Planet 99 – band dengan genre musik baru bernama Rock-Lung akan tampil juga. Band unik ini mengawinkan alat musik tradisional bambu - angklung dengan musik rock. Mereka memadukan entertaiment, teknologi dan etnik dengan konsep Indonesiana. Jarang sekali sebuah band mengedepankan karakter kebangsaan - berani mengusung musik tradiosional. Disamping itu, selama tiga hari ini digelar juga pameran foto bertema ”Kita Peduli”. Foto-fotonya diharapkan menginspirasi para pengunjung tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk menunjukkan kepedulian pada lingkungan sekitar. Foto yang dipamerkan adalah hasil karya Komunitas Fotografi Bogor (KFB) dan Scraff Universitas Sahid Jakarta. Lewat film, StoS Film Festival 2010 mengundang publik Jakarta dan sekitarnya datang, menonton gratis dan berbagi cerita bagaimana masalah lingkungan di tempat lain negara lain – dan bagaimana mereka peduli. Kontak media. Luluk Uliyah, HP 0815 9480 246
|

