Register
Home Home Artikel Jangan Biarkan Jakarta Tenggelam Karena Perubahan Iklim
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
Jangan Biarkan Jakarta Tenggelam Karena Perubahan Iklim
Bila masyarakat masih boros dalam pemakaian bermacam produk untuk kebutuhan hidupnya, seperti makan, minum, mandi, berhias, bertransportasi, berkomunikasi, lalu tidak mengelola dan mengendalikan sampah yang dihasilkannya, menebang hutan, merubah fungsi lahan dan sebagainya, maka suhu bumi akan meningkat.

Bermacam kegiatan manusia itu menghasilkan gas karbondioksida (CO2), methana (NH4), nitroksida (N2O) yang dikenal sebagai gas rumah kaca. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir yang menyelimuti bumi bermanfaat untuk menghangatkan bumi yang dingin. Namun bila konsentrasinya tidak stabil dan cenderung meningkat, maka suhu bumi meningkat dan terjadilah pemanasan global.

***

”Jakarta akan tenggelam pada 2025. Pantai Jakarta akan bergeser dari tempatnya sekarang di Jakarta Utara ke kawasan Senen di Jakarta Pusat. Hanya sebagain Jakarta Timur dan Selatan yang tersisa.”

Itulah kalimat yang muncul dari paparan Rully Syumanda saat dialog interaktif South to South Film Festival (StoS) Roadshow bersama para siswa SMA Muhammadyah 1 Salemba, di Jakarta Pusat pada 20 Agustus lalu.

Mungkin banyak orang tidak percaya mendengarnya. Apalagi bagi orang yang selama ini tidak peduli akan kondisi lingkungannya. Namun itulah perkiraan para ilmuwan bila gaya hidup atau lifestyle masyarakat dunia khususnya penduduk ibukota Indonesia ini masih seperti saat ini.

Bila masyarakat masih boros dalam pemakaian bermacam produk untuk kebutuhan hidupnya, seperti makan, minum, mandi, berhias, bertransportasi, berkomunikasi, lalu tidak mengelola dan mengendalikan sampah yang dihasilkannya, menebang hutan, merubah fungsi lahan dan sebagainya, maka suhu bumi akan meningkat.

Bermacam kegiatan manusia itu menghasilkan gas karbondioksida (CO2), methana (NH4), nitroksida (N2O) yang dikenal sebagai gas rumah kaca. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir yang menyelimuti bumi bermanfaat untuk menghangatkan bumi yang dingin. Namun bila konsentrasinya tidak stabil dan cenderung meningkat, maka suhu bumi meningkat dan terjadilah pemanasan global.

”Akibatnya perubahan iklim terjadi. Bermacam fenomena alam mengalami perubahan secara drastis. Musim tidak menentu yang akan mempengaruhi petani dalam menentukan waktu tanam, nelayan dalam menangkap ikan, lapisan es di kutub mencair, permukaan air laut meningkat, tenggelamnya pulau-pulau kecil dan sebagainya,” jelas Syumanda.

Bencana alam seperti banjir dan kekeringan juga meningkat intensitasnya. Alam sudah tidak mampu mengendalikan siklusnya secara stabil. Saat hujan turun, air tidak mampu terserap dan tersimpan untuk kebutuhan air tanah saat kemarau. Akibatnya saat hujan turun terjadi banjir dan di saat musim kemarau terjadi kekeringan atau kekurangan air.

Kondisi itu semakin parah karena rusaknya daerah aliran sungai (DAS). Dari hulu sampai hilir, batang sungai mengalami kerusakan. Sungai-sungai yang mengalir di Jakarta hanya menjadi tong sampah terpanjang di bumi ini.

Menurut Direktur Kampanye Institut Hijau Indonesia ini, setiap tahun, sampah plastik sebanyak 185 kali luas Candi Borobudur atau 265 kali lapangan sepak bola masuk ke sungai-sungai itu. Akibatnya sungai mengalami pendangkalan dan kemampuannya untuk menampung air hujan jadi berkurang drastis.

Tak heran bila ibukota ini jadi pelanggan banjir. Jangankan hujan deras, baru hujan sesaat saja sudah mampu menggenangi jalan-jalan protokol di kota metropolitan ini. Seperti yang nampak dalam film dokumenter berjudul ”Jakarta Under Pressure”, salah satu film StoS Film Festival yang diputar dalam StoS Roadshow di sekolah di kawasan Kramat, Jakarta Pusat itu.

Film ini menggambarkan Jakarta dengan segala permasalahan sampah dan banjir. Kondisi ini harus ditangani secara terpadu dari hulu sampai hilir, ”Satu Sungai Satu Pengelolaan”. Lebih dari itu, seluruh lapisan masyarakat harus peduli untuk merubah gaya hidupnya untuk mencegah dampak yang lebih parah akibat perubahan iklim

Kita Peduli

Menurut Ferdinand Ismael sebagai Koordinator StoS Film Festival 2010, salah satu tujuan StoS Roadshow saat ini adalah menyuarakan agar semua kalangan masyarakat terutama generasi muda dapat meningkatkan kepedulian dan partisipasinya dalam mengelola lingkungan hidup di sekitarnya untuk berperan dalam mencegah pemanasan global dan perubahan iklim.

Hingga saat ini (Agustus 2009), StoS Roadshow telah melakukan kegiatannya berupa pemutaran film, dialog interaktif, pameran foto, kuis, dan game di beberapa sekolah di antaranya SMA Muhammadiyah Jakarta Selatan pada 20 Agustus, SMA Negeri 80 Sunter Agung Tanjung Priuk Jakarta Utara pada 15 Agustus, MA  AL-Wathoniyah 43 Cilincing Jakarta Utara pada18 Agustus. Selain di sekolah menengah atas, StoS Roadshow juga telah melakukan kegiatannya di beberapa kampus dan komunitas di Jakarta.

Selain bertujuan untuk mensosialisasikan dan menggugah kepedulian semua pihak akan gaya hidup, lingkungan dan perubahan iklim, StoS Roadshow juga menyampaikan informasi tentang adanya StoS Film Festival pada 2010 dengan tema ”We Care” atau ”Kita Peduli”. StoS Film Festival 2010 akan semakin seru dengan adanya workshop pembuatan film dokumenter lingkungan  (kompetisi), screening film lingkungan, StoS Roadshow (keliling) ke SMU-SMU sejabotabek, kompetisi vidio kampung, lomba blog StoS, lomba fotonovela untuk pelajar dan mahasiswa serta kompetisi debat publik tentang lingkungan tingkat SMU sejabotabek.

 
Members : 3299
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 166506
We have 15 guests online
Copyright © 2012. South to South Festival. Re-Designed by FunWebbing