| Kaleng-Kaleng Di Sekitarmu |
| Written by Luluk Uliyah | |||
|
Minum dari minuman kaleng? Atau memasak bahan-bahan yang sudah diawetkan dalam kaleng? Rasanya sering kita memanfaatkan makanan atau minuman yang disimpan dalam kaleng. Selain praktis, saat ini pun variasi rasanya sudah cukup tinggi. Namun pernahkah kita berpikir, dari mana asal muasal kaleng-kaleng tersebut? Tentu jawabannya bukan berasal dari pabrik. Kaleng-kaleng yang sering kita temui saat ini bahan dasarnya berasal dari bauksit. Separuhnya adalah aluminium oksida. Bahan mineral bauksit terdapat di dalam dalam tanah, sehingga untuk memperolehnya, perlu menggali. Dan kebanyakan, tambang bauksit merupakan tambang terbuka, dengan membuka lahan yang ada di atasnya, dan menghasilkan limbah batuan dalam jumlah besar. Tak cuma itu, ketika bahan mineral bauksit dilebur, butuh panas yang tinggi. Container Recycling Institut di Wangshiton DC meneliti, untuk membuat satu buah kaleng minuman membutuhkan energi yang sama dengan seperempat bensin dengan volume kaleng yang sama. Kaleng dan Tempat Asalnya Tak banyak dari kita yang tahu bagaimana nasib masyarakat dan lingkungan tempat bauksit tersebut diambil. Sebagian besar kawasan di sekitar tambang bauksit menjadi rusak karena tercemar oleh air limbah pencucian bauksit. KEbun-kebu warga rusak karena debu yang menutupi lahan warga. Belum lagi debu yang mengganggu kesehatan dan suara bising dari aktivitas pertambangan yang jaraknya sangat dengan dengan pemukiman. Di Selat Nasik, Pulau Mendanau, Kabupaten Belitung misalnya. Luasnya kawasan ini tidak sampai 13,7 ribu hektar. Namun tempat ini dikenal kaya keragaman hayati laut. LIPI mencatat bahwa perairan Selat Nasik memiliki 135 jenis karang, 109 jenis ikan, 6 kelompok benthos dan 23 jenis mangrove. Terumbu karang di kawasan ini mencapai 1.039 ha dengan tutupan karang hidupnya mencapai 47 hingga 92%. Tak heran jika tempat ini menjadi penghasil ikan terbesar di Belitung. Namun sejak adanya tambang bauksit PT Pamin Kanaan, kehidupan masyarakat dan kondisi lingkugan berubah. Truk-truk dan alat berat yang hilir mudik di pulau kecil tersebut membuat bising dan debu beterbangan tan tentu arah. Tak cuma itu, air limbah bekas pencucian bauksit akan dibuang ke laut, yang mengancam penghidupan nelayan di kawasan tersebut. Apalagi sebagian besar masyarakat Nasik adalh nelayan tangkap dan membudidayakan keramba jaring apung, yang bergantung pada perairan di kawasan tersebut. Nasib masyarakat petani sayur di Kampung Sei Mantang Kelurahan Sei Enam Kecamatan Bintang Timur Kabupaten Bintan pun tidak jauh berbeda. Tambang bauksit PT Alam Purnama Panjang yang lokasinya berdekatan dengan rumah-rumah warga menyebabkan masyarakat di sana terganggu siang dan malam oleh deru mesin budoser. Debu-debu akibat kegiatan tambang juga menyebabkan tanaman dan sayur mayur milik masyarakat rusak. Debu-debu telah menutupi lahan dan sayuan yang ditanam warga. Ini tak lain karena lokasi tambang yang hanya berjarak 20 meter dari kebun warga. Di Sengarang, Pulau Batam, operasi tambang bauksit telah menyebabkan rusaknya hutan mangrove sepanjang 2 km. Warga pun mulai kesulitan menangkap ikan karena air sungai dan air laut di kawasan tersbut telah tercemar akibat bobolnya tanggul hasil cucian tambang bauksit PT Cahaya Bintang Abadi. Sementara itu, tambang bauksit di pulau Bintan dan sekitarnya telah menyebabkan hutan lindung dan daerah kawasan tangkapan air rusak dan berubah fungsi. Hutan bakau juga menjadi rusak. Tambang bauksit di Pulau Telang, Kabupaten Bintan telahmenyebabkan pulau tersebut menajdi gundul, karena banyakny apohon yang diterjang alat-alat berat perusahaan tambang. Air bauksit pun turun ke laut hingga membuat pesisir dan laut di kawasan tersbut tercemar. Budidaya kerapu tak lagi bisa diandalkan karena airnya telah tercemar. Jika arti sebuah kaleng ternyata panjang ceritanya, dan memberi dampak buruk buat kehidupanmasyarakat di daerah asal bahan kaleng teersebut ditambang, apa yang bisa kamu lakukan?
|

