Register
Home Home Artikel Tunggu Apa Lagi…. Bumi Butuh Aksi Nyatamu Segera
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
Tunggu Apa Lagi…. Bumi Butuh Aksi Nyatamu Segera
Written by Ani Purwati   
Akhir-akhir ini cuaca makin panas. Hujan juga makin jarang meski sudah saatnya musim hujan. Apa ini akibat perubahan iklim? Ya, salah satu dampak perubahan iklim adalah peningkatan suhu bumi dan iklim yang sulit diprediksi. Menurut para ahli, fenomena dampak perubahan iklim memang sudah terjadi. Nah, kemungkinan besar inilah fenomena itu.

Tunggu apa lagi….! Para ahli yang berkonsentrasi dalam ilmu terkait perubahan iklim, pemerintah, para duta dan aktivis lingkungan hidup selalu menyuarakan pentingnya langkah nyata mencegah perubahan iklim akibat pemanasan global ini. Tidak hanya sibuk dengan perundingan-perundingan yang bertele-tele dan tak kunjung mendapat titik terang. Yang ada justru keruwetan yang makin manambah ruwet, bahkan terkesan gagal.

“Mending pemerintah benar-benar mengeluarkan kebijakan yang mendorong lahirnya energi terbarukan yang ramah lingkungan,” kata Ivy dari Solar Generation, Greenpeace saat diskusi Roadshow South to South Film Festival di kantor Change dan Jurnal Perempuan, Jakarta, Kamis (5/10). Menurut mahasiswi Trisakti ini, langkah ini benar-benar nyata dan bisa bermanfaat sekali dalam menyediakan energi nasional dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor energi. Terlebih lagi Indonesia kaya akan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, air, biofuel dan sebagainya.

Langkah-langkah yang mengarah pada perubahan kebiasan hidup yang hemat energi dan ramah lingkungan harus segera dilakukan. Bila tidak dampak perubahan iklim yang digambarkan The Fride, film documenter tentang meledaknya sebuah kulkas karena kecerobohan dan pemborosan energiy yang diputar sebelum diskusi bersama film documenter StoS Festival 2008 lalu, The Lost Penguin dan Jakarta Under Pressure.

Pemanfaatan energi fosil yang tidak terbarukan ini menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2), methane (CH4), dan nitroksida (NO), penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Menurut Rully Syumanda dari Institut Hijau Indonesia saat mengawali diskusi, dalam 250 tahun terakhir, 90% aktivitas manusia membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir.

Nah apa yang terjadi bila suhu bumi meningkat 1o C? Ternyata sungguh mengerikan. Beberapa gletser kecil di Andes menghilang seluruhnya dan mengancam persediaan air bagi 50 juta orang. Kenaikan moderat hasil panen sereal di wilayah beriklim sedang. Setidaknya 300.000 orang setiap tahunnya meninggal karena penyakit akibat perubahan iklim (terutama diare, malaria, dan kekurangan gizi), akan tetapi ada pengurangan angka kematian pada saat musim dingin di wilayah yang lebih tinggi (Eropa Utara, AS).

Apalagi bila suhu meningkat 4o C. Dampaknya tentu lebih dasyat. Ahli  memperkirakan persediaan air menyusut 30-50% di Afrika bagian Selatan
dan Mediterania. Suhu udara yang bertambah panas menyebabkan lenyapnya gletser-gletser Himalaya dan mempengaruhi jutaan orang di China dan India. Panen merosot 15-35% di Afrika dan di seluruh lumbung produksi pangan dunia (misalnya di sebagian Australia).

Bila kebiasaan hidup kita dalam pemanfaatan energi dan sebagainya, suhu  juga bisa meningkat sampai 5o C dan mungkin saja bisa lebih dari itu.
Syumanda mengatakan, bukti terbaru menunjukkan bahwa rata-rata suhu bumi akan naik lebih dari 5 atau 6ºC bila emisi gas rumah kaca terus
bertambah. Kondisi ini menimbulkan bahaya besar pelepasan karbon  dioksida dari permukaan tanah dan pelepasan metana dari lapisan es di  Kutub Utara maupun dari dasar laut. Kenaikan suhu udara global ini akan  setara dengan pemanasan global yang pernah terjadi pada Zaman Es terakhir.

Saat ini masih ada waktu untuk bertindak nyata. Mencegah suhu bumi meningkat dan meningkat lagi. Tidak perlu mahal, rumit dan bertele-tele. Dari anak-anak sampai orang dewasa, dari masyarakat pinggiran, pemerintah hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat bisa melakukan. Seperti mematikan listrik yang tidak digunakan, mengurangi pemakaian produk-produk yang berasal dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak ramah dan menghasilkan limbah dan sampah (seperti sabun, kertas, emas, minyak goring dan sebagainya), menghemat energi, menggunakan energi  ramah lingkungan, mengelola sampah dan sebagainya.[]
 
Members : 3299
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 166492
We have 19 guests online
Copyright © 2012. South to South Festival. Re-Designed by FunWebbing