Register
Home Home News Rasionalisasi Pemenang Kompetisi Film Dokumenter
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
Rasionalisasi Pemenang Kompetisi Film Dokumenter

South to South Film Festival 2010

Dibacakan mewakili juri kompetisi film yang terdiri dari

Chandra Tanzil, direktur eksekutif Indocs
Nurhidayati, Country representative greenpeace  
Wicaksono, Jurnalis tempo dan aktif dilayanan jejaring dan media social.

Dari 69 film yang masuk ke meja panitia, terpilih 6 film yang lolos seleksi Kompetisi Film Dokumenter South to South Film Festival 2010 kemudian masuk ketahap penjurian final untuk menentukan satu pemenang utama pilihan juri. Keenam film nominator tersebut adalah:

1.    The Last One: Hutan Bakau Satu-satunya di Jakarta karya A. Syafari, BSI
2.    Mata Air Mata karya Aditya Wardhana, Independen Profesional Indonesia
3.    Satu Harapan karya Yuli Andari, Benang Merah Production
4.    Di Ujung Kehancuran karya Insan Indah Pribadi, Sangkanparan
5.    Tanah Negara – Not For Sale karya Gede Sugiarta, Yayasan IDEP
6.    Sang Pawang Air karya Bowo Leksono, Goldwater

Keenam film tersebut dianggap oleh panitia dapat mewakili kriteria yang disyaratkan oleh panitia Kompetisi Film Dokumenter South to South Film Festival 2010. Dan kriteria tersebut meliputi:

I. Konteks Tema
Seberapa dekat karya dengan konteks tema kompetisi: “WE CARE”. Kedekatan ini dapat diterjemahkan bagaimana karya-karya yang hadir dapat menginspirasikan kita, dari berbagai sudut pandang, yang mancakup persoalan sosial dan lingkungan.

II. Kefaktualan dan Keaktualitasan Isu
Penilaian ini akan melihat bagaimana karya tersebut merangkum fakta-fakta aktual mengenai persoalan sosial dan lingkungan di Indonesia serta seberapa kuat karya tersebut menyajikan fakta-fakta yang ada.

Hal yang menjadi nilai tambahan yang kuat adalah; bagaimana sebuah karya dapat menampilkan nilai-nilai lokal yang bersifat universal.

III. Penyajian
Penilaian ini akan melihat keseimbangan penyajian informasi dengan kemampuan artistik pengkarya dalam mengemas informasi tersebut. Karya tidak harus dilihat sebagai bentuk “berita” atau “reportase” mengenai isu sosial dan lingkungan, namun juga dapat menggali sisi lain dari isu tersebut dalam kerangka narasi kecil.

IV. Lain-lain
Penilaian diluar tiga kerangka diatas sebagai nilai tambah bagi karya.

 

Sedangkan penjabaran tema “WE CARE” meliputi:

•    Sajian kondisi nyata isu sosial dan lingkungan di Indonesia,
•    Perilaku manusia dalam keseharian yang terkait dengan persoalan sosial, lingkungan, kearifan lokal, gender, serta anak-anak,
•    Inspiring story dari keseharian terkait dengan isu sosial dan lingkungan.

Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk mengumpulkan film dokumenter yang berbicara mengenai isu sosial dan lingkungan dari berbagai aspek dan korelasinya dengan hidup serta kehidupan manusia.

Panitia juga mencatat, dari ke-69 karya film pendek dokumenter yang masuk, mayoritas belum mampu untuk menggambarkan isu persoalan sosial dan lingkungan secara utuh. Panitia masih banyak menemukan karya yang bersifat reportase dan tidak menggali fakta maupun data lebih jauh. Dengan isu persoalan sosial dan lingkungan yang kompleks, simplifikasi persoalan banyak sekali terjadi di film-film yang masuk ke panitia.

Namun bukan berarti keenam nominator tidak memiliki kelemahan. Kurangnya penajaman isu hingga cara menampilkan data masih menjadi kelemahan utama yang muncul. Tapi keenam film nominasi inilah yang kemudian dianggap paling memenuhi syarat untuk masuk ke penjurian final.

Dari enam film, dewan juri memilih tiga terbaik untuk ditentukan pemenang utama. Penilaian meliputi berbagai aspek, baik secara artistik maupun kekuatan isu yang disampaikan.

 

Dan pemenang kompetisi South to South Film Festival 2010 adalah:

 

Satu Harapan karya Yuli Andari - Benang Merah Production


dan berikut adalah penjelasan rasionalisasi juri atas film pemenang tersebut:

Satu Harapan karya Yuli Andari menampilkan kompleksitas persoalan yang mencakup banyak isu dalam satu kesatuan cerita, termasuk konservasi hutan, peran perempuan, kesehatan, serta kemiskinan. Film ini mencoba membawa penonton untuk memahami persoalan sosial – lingkungan, melalui personifikasi yang kuat dan narasi-narasi kecil dengan nilai-nilai universal didalamnya.

Juri juga mencatat beberapa kekurangan dalam karya ini seperti cara penyajian cerita yang kurang runut dan sedikit persoalan teknis yang kurang mumpuni.

Namun secara keseluruhan, juri menganggap film ini yang paling mampu mewakili tema South to South Film Festival 2010.

Selama proses penjurian, dewan juri juga menemukan satu film yang dianggap penting untuk tampil sebagai pemenang, dengan bobot nilai tidak jauh berbeda dengan karya pemenang utama.

Film ini dianggap sebagai inspiring story, dengan menyajikan fakta kerja kolektif masyarakat dalam mengatasi permasalahannya. Juri menganggap film ini bisa menjadi satu contoh penting bagaimana masyarakat secara mandiri mengatasi persoalannya dan menjadi pembelajaran penting bagi kita semua.

Untuk itu juri memberikan penghargaan khusus dewan juri yang jatuh pada film;

Sang Pawang Air karya Bowo Leksono, menampilkan satu solusi menarik akan permasalahan air di masyarakat. Inisiasi masyarakat dalam mengatasi persoalannya secara kolektif merupakan gambaran menarik didalam film ini. Namun film ini terlalu deskriptif dalam menampilkan data serta fakta. Pembuat film kurang maksimal dalam memanfaatkan eksplorasi visual dalam karyanya, walau tidak dapat dipungkiri secara teknis, film ini tampil dengan baik.

Sedangkan untuk empat film lainnya, dewan juri mencatat kurangnya kejelian pembuat film dalam menterjemahkan kriteria yang diinginkan oleh panitia hingga teknis pembuatan yang tidak maksimal yang merupakan alasan mengapa dewan juri tidak memilihnya.

Namun bagi semua karya baik yang lolos seleksi maupun tidak, panitia serta dewan juri berterimakasih kepada semua pembuat film yang mengirimkan karyanya. Pada dasarnya, kompetisi ini bukan soal menang atau kalah, tapi mencoba untuk mengajak semua pihak untuk menyadari pentingnya isu sosial - lingkungan bagi kita semua.

Selain kedua karya pilihan juri yang sudah diumumkan sebelumnya, kategori selanjutnya untuk South to South Film Festival 2010 adalah pemenang favorit pilihan penonton.  Selama penayangan program film kompetisi di GoetheHaus dan CCF Jakarta Salemba, kami telah melakukan perhitungan dengan hasil sebagai berikut. Dari 162 pemilih, 42 diantaranya memilih karya untuk kategori favorit pilihan penonton yang dimenangkan oleh:

Mata Air Mata karya Aditya Wardhana, Independen Profesional Indonesia

Para pemenang akan mendapatkan hadiah sebagai berikut:
Pemenang South to South Film Festival Award berhak mendapatkan uang tunai sejumlah: Rp. 5.000.000,-
Pemenang Penghargaan Khusus berhak mendapatkan uang tunai sejumlah: Rp. 1.000.000,-
Pemenang Favorit Pilihan Penonton berhak mendapatkan uang tunai sejumlah: Rp. 3.000.000,-

Selamat kepada para pemenang.

 
Members : 169
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 94293
We have 12 guests online
Copyright © 2010. South to South Festival. Re-Designed by FunWebbing